“Cerita pendek atau yang biasanya disebut
cerpen merupakan karangan pendek yang berbentuk prosa. Prosa merupakan karya
yang berbentuk cerita bebas. Minggu depan siapkan cerpen bertemakan “Ibu” dan
masing-masing siswa menceritakannya didepan kelas“ ucapan Bu Dilla saja yang
kini masih menempati pikiran Rita saat perjalanan pulang dari sekolah.
Sesampainya dirumah, Rita langsung
menemui Ayahnya yang merupakan penjahit dan berkata “Yah, Rita bingung harus menulis
bagaimana?“. Dengan melepas kaca matanya, Ayah pun berkata “Menulis apa sih,
Nak?“.“ Menulis cerita pendek yang bertemakan Ibu“ jawabnya dengan cepat. “Ya sudah,
nih telephone Ibumu, agar besok Sabtu ia pulang“ sambil memberikan handphone ke
Rita. “Ya, Yah. Lagi pula besok Sabtu adalah hari ulang tahun Rita yang ke 9”
mengambil handphone yang diberikan ayahnya. “Oh iya ” sambil melihat kalender untuk memastikannya.
“Hallo Bu, Rita kangen nih.
Kan udah 2 minggu Ibu tidak pulang kerumah. Besok Sabtu pulang ya. Lagi pula Rita
ulang tahun ke 9 loh, Ibu tidak lupakan“ ucap Rita ke Ibunya melalui handphone.
“Insyaallah,
hari Sabtu akan pulang dan sampai jam 9 pagi. Ibu tidak lupa kok. Tunggu Ibu
dirumah ya, Nak“ jawab Ibunya yang merupakan pegawai swasta di Jakarta dari
handphone.
“Ya. Rita tunggu. Jangan
sampai lupa ya?“ jawabnya dengan nada yang senang
“Iya. Wassalamualaikum“ ucap
penutup dari Ibunya.
“Waalaikum salam“ sambil
menutup handphonenya.
Kemudian Rita mempersiapkan
alat-alat yang digunakan dalam menulis cerita pendeknya diatas meja belajarnya,
seperti: buku, pulpen, pensil, dan penghapus. Kemudian Rita mengkhayal tentang
apa saja yang akan dilakukannya saat membuat cerita pendek nanti. Hingga Rita
terlelap di meja belajarnya.
Kegiatan sehari-hari ia jalankan
dengan biasanya. Hari Sabtu sekolah di Desanya libur,
untuk mempersiapkan kedatangan Ibunya, Rita membersihkan halaman dan rumahnya. Di
halaman rumah sudah banyak rumput liar sudah panjang menjulang, karena Rita
tidak mau Ibunya kecewa, Rita segera mengambil peralatan dan mulai membersihkan
halaman. Waktu pun terus
berjalan hingga tak terasa menunjukan pukul 8.30. Karena kini halamannya sudah
rapi, Rita bergegas masuk kerumah untuk membersihkan badan yang terguyur oleh
keringat.
Selesai mandi, Rita menunggu
Ibunya di depan rumah. Waktu terus berjalan dan Ibunya tak kunjung datang.
Mungkin bisnya telat, itu adalah pikiran yang tergambar dari raut mukanya. Raut
muka yang mengkhawatir Ibunya. Sekitar jam 9 lewat 30 menit, Rita memutuskan
untuk menelephone kembali Ibunya dan menanyakan tentang keberadaannya.
Setelah di telephone,
ternyata Ibunya hampir sampai terminal yang dekat dengan desanya. Mendengar
perkataan tersebut, Rita langsung menutup telephonenya dan berlari menuju
terminal yang berada di seberang desanya. Rita berlari dengan kencang, hingga
ia tidak menghiraukan kendaraan yang berada di sekitarnya. Dengan kecepatan
kurang lebih 60 km/jam sebuah motor menyerempet Rita yang sedang menyebrang
sambil berlari. Klakson motor sudah di berikan, namun Rita tidak dapat
menghindar dari motor tersebut. Rita pun terjatuh dan pingsan, ketika motor
menyerempetnya. Darah kini mengalir dari kening, tangan, dan kakinya. Para
pengguna jalan menghampiri dan mengerumuninya.
Selang beberapa menit
kemudian, sebuah bis antar kota dan ambulance yang di panggil oleh seorang
saksi mata kejadian datang. Ambulance segera membawa Rita ke rumah sakit
terdekat. Saat itu pula Ibunya turun dari bis. Ketika melihat kerumunan warga, Ibu Rita segera
menghampiri dan menanyakan tentang korban kecelakaan. Salah seorang dari
kerumunan tersebut berkata “Korbannya anak kecil sekitar sembilan tahun,
kulitnya putih, rambutnya dikepang, dan punya bintik hitam di tengah dagunya”. Setelah
mendengar ciri-ciri korban tersebut, Ibu Rita memiliki firasat yang buruk.
Saat
Ibu Rita pulang kerumah, yang dapat ia temui hanya suaminya saja. Kemudian ia menanyakan keberadaan Rita. Baru ia
sadari bahwa korban kecelakaan tersebut adalah Rita.
Segera
kedua orangtua Rita pergi kerumah sakit. Saat mereka sampai rumah sakit,
ternyata Rita sudah siuman. Setelah Rita melihat Ibunya datang, Rita tersenyum dan
berkata “Ibu sudah datang ya?”. Ibu Rita menjawab “Iya baru aja ibu sampai”
sambil menghilangkan air matanya karena khawatir. “Maaf ya, Rita ceroboh saat
menyeberang, jadi begini nih” dengan raut wajah yang sedih dan sedih. “Tidak apa-apa,
Selamat ulang tahun ya, Nak. Semoga Allah memberikan yang terbaik buat kamu”
balasnya dengan mengelus rambut yang kini terurai dan mengecup keningnya.
Karena
luka dikakinya tidak parah, sehari kemudian Rita telah diperbolehkan pulang
untuk beristirahat di rumah. Sesampai di rumah, dengan menggunakan tongkat ia
berjalan dibantu dengan Ibunya. Ketika melihat buku yang telah disiapkan
olehnya untuk membuat cerita pendek, ia berkata “Bu, Rita punya PR membuat
cerita pendek bertemakan Ibu, Ibu maukan membantu Rita membuat cerita pendeknya,
mau ya Bu?”Tanya Rita sambil memegang buku dan pensil. ”Tapi kamu masih sakit
jadi besok kamu tidak pergi sekolah” ucap ibu sambil mengusap rambut Rita. “Tapi,
Bu. Itu pengambilan nilai” ucapnya
dengan nada memohon. “Baiklah” jawabnya sambil membantu Rita duduk di kursi
meja belajarnya.
Hari
pembacaan cerita pendek tiba, sudah setengah jam berlalu, sebagian teman Rita
sudah membacakannya di depan kelas. Kemudian, ketokan pintu membuat pandangan
mata seisi kelas berubah dan tertuju kepada pintu ruang kelas. Setelah Bu Dilla
membuka pintu, Bu Dilla terlihat terkejut. Kemudian Bu
Dilla berbincang sebentar dengan seseorang di luar kelas.
Beberapa
menit kemudian masuklah siswi di bantu oleh Bu Dilla dan Ibu dari siswi tersebut,
ternyata itu adalah Rita yang akan membacakan cerita pendeknya di depan kelas. Rita
membaca cerita pendeknya, seluruh siswa memperhatikan dan mendengarkan cerita Rita.
Diakhir cerita Rita berkata ”My Mom, I miss you”. Kemudian seluruh siswa
memberikan tepuk tangan. Rita meminta izin kepada Bu Dilla untuk pulang agar
beristirahat di rumah. Diperjalanan, Rita berkata dengan berbisik “Bu, I miss you”. “ I miss you too“ jawab Ibunya
menanggapai bisikan tersebut dengan mengelus rambutnya. Dalam perjalanan
pulang, Rita dan Ibunya saling bercanda untuk melepaskan kerinduan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar