Senin, 16 Mei 2016

Kalung Hati 17


“Happy Birthday ke 17 sayang, semoga selalu sehat dan akan bahagia selalu” seseorang yang sering ku panggil Ibu itu memeluk dengan erat, sambil mengusap-usap rambutku. Mata yang kini terlihat sayu kini lembab karena air mata yang tidak dapat lagi dibendung.
“Iya, bu terimakasih atas segala yang telah Ibu berikan ke Mira” begitu kagetnya aku karena ibu mengucapkannya pukul 3 pagi, tepat dengan waktu kelahiranku.
Tanpa memberikan kata-kata lagi ibu memberikan kotak yang terbungkus oleh kertas Koran. Dengan senang hati, aku buka bungkusan yang melapisi sebuah kotak. Setalah kubuka kotak itu ternyata sebuah kalung yang memiliki bandul batu akik berbentuk hati telah ibu berikan kepadaku, Aku yakin pasti kalung ini sangat berharga bagi ibuku, maka aku akan menjaganya dengan hati-hati. Dan aku akan memakainya setiap hari.
***
Aku memiliki janji untuk merayakan ulang tahun bersama Karin pukul 10 pagi. Kemudian Karin memberi kabar bahwa ia telah berada di tempat makan yang telah ku janjikan, tempat yang kumaksud tidak jauh dari tempat tinggalku sekitar 200 meter di seberang jalan.
“Ibu aku pergi dulu ya? Aku pergi dengan Karin ke Restoran Kediri ya bu?“ sambil ku mencium tangan ibuku yang sedang duduk didepan rumah
“Ya, hati-hati dijalan...“ sambil memberikan aku senyuman yang selalu aku jumpai disetiap harinya.
Saat dalam perjalanan, aku memikirkan makanan yang akan kami pesan di restoran itu dengan menggunkan uang yang saat ini aku genggam.
 Tiba-tiba dengan cepat ada orang yang mengambil uangku. Mereka dua orang laki-laki bertubuh besar yang membawa sepeda motor dan senjata tajam. Kemudian aku berteriak minta tolong dan para warga pun membentuku dan mengejar penjahat itu. Jalan luruslah yang dilalui oleh penjahat itu, aku pun berusaha untuk mengejarnya pula. Jalan itu pula yang akan membawaku menuju restoran yang akan aku datangi.
Dari kejauhan dapat kulihat seorang wanita sedang menyebrangi jalan, kemudian dengan cepat kedua penjahat tersebut menabrak wanita itu, yang membuat kedua penjahat dan wanita itu jatuh. Kupercepat lari untuk mengahampirinya. Setelah sampai ditempat kejadian, kuhampiri wanita itu.
”Mba..mba.. “ aku terus mencoba membuatnya sadar dari posisi tubuhnya yang telungkup, tetapi dengan gaya rambutnya yang ikal aku dapat mengenalinya seperti sahabatku. Agar memastikan dugaanku, kemudian aku melihat wajah, wajah yang kini berlumuran darah itu Karin
“Karin… Karin… sadar Karin” aku coba untuk memanggil ambulance melalu telephone genggamku. Sementara itu warga membawa kedua penjahat tersebut ke kantor polisi terdekat.
“Haloo. Tolong kirim ambulance ke Jalan Raja Lima, disini terjadi kecelakaan!” langsung kututup telephone. Dan mencoba untuk memberikan nafas buatan untuk sahabatku. Hingga akhirnya ia dapat membuka mata, namun ia terlihat sangat kesakitan di bagian kepal,  tangan kiri, dan kakinya. 3 menit kemudian ambulance datang dan segera membawa Karin ke rumah sakit terdekat
***
Sudah satu jam dari perjanjian, aku menunggu Karin di Ruang IGD, aku telah menelephone bundanya, untuk memberitahukan rumah sakit tempat Karin kubawa. Saat dokter yang menanganinya keluar, aku langsung menanyakan tentang keadaan sahabatku
“Dokter bagimana keadaan sahabat saya?“ dengan merasa cemas aku masih saja menghawatirkannya.
“Kamu yang beri nafas buatan?“ dengan senyuman membuat kerutan dimata dokter laki-laki itu.
“Iya, karena saya takut terjadi apa-apa dengan sahabat saya, Dok. Apa dia baik baik saja?“ jawabnku yang masih terus menghawatirkannya.
“Kini dia sudah siuman, kamu boleh masuk kedalam, tapi tolong selesaikan urusan adminstrasinya dulu ya“ jawaban dokter membuat kau senang dan juga membuatku kaget, karena aku melupakan biaya yang harus ku tanggung.
Aku putuskan untuk mengurus adminstrasinya terlebih dahulu lalu menemui Karin. Saat sampai di ruang administrasi dan mendapatkan tagihan sebesar 700.000 dari rumah sakit aku bingung bagaiman cara aku membayarnya, sedangkan aku saja habis kecurian uang. Kemudian aku meminta negosiasi oleh pengurus administrasi, namun ditolak.
            Bagaimana cara membayarnya, hanya pertanyaan itu saja yang kini sedang menempati pikiranku. Kemudian aku memiliki ide untuk menggadaikan kalungku, tetapi pasti saat ibuku tau ia akan marah dan bersedih. Akhirnya aku putuskan agar kalung ini menjadi jaminan pembayaran rumah sakit. Pengurus adminstrasi itu memberi kesempatan.
            Aku pergi ke IGD untuk menghampiri Karin yang masih terbaring lemas ditempat tidur. Saat didepan ruangan aku lihat dari jendela kaca bahwa orang tuanya sudah datang. Karena kurasa Karin akan lebih baik dijaga oleh Ibunya, aku bergegas untuk pulang dan mengabarkan hal ini kepada Ibuku.
***
            Didepan rumah pukul 12 siang aku bingung bagaimana cara mengatakan tentang kalung itu tanpa membuat ibu kecewa. Belum ingin aku mengetok dan membuka pintu, Ibuku membuka pintu dan kaget melihatku ada didepan pintu.
            “Cepet banget makan-makannya hanya 2 jam? Makan apa aja? Ayo duduk ceritakan ke Ibu” ibuku mengusap kepalaku dengan tangan yang lembut sambil membawa buku yang baru saja dibacanya. Pertanyaan itu membuat aku kembali mengingat kejadian yang baru saja terjadi yang menimpa sahabatku.
“Iya, Bu” jawabku dengan membalas senyuman bingung bagaimana cara mengungkapkannya. 
“Bu sebenarnya, tadi Mira tidak jadi makan dengan Karin, kejadian buruk telah menimpaku dan Karin, tadi aku kecurian uang dan Karin tadi tertabrak oleh penjahat yang mencuri uangku, aku tidak apa-apa tapi Karin yang ada apa-apa. Karena aku melihat Karin yang tertabrak aku langsung memanggil ambulance dan membawanya ke Rumah Sakit Cipta.” Dengan tundukan kepala aku menjelaskan kejadian yang menimpaku dan Karin, tapi bagaimana dengan kalung itu, aku masih bingung bagaimana cara menjelaskannya.
“Innalilahi…. Syukur deh kalo kamu baik-baik aja” dengan wajah yang yang masih tersenyum dan dengan raut muka merasa lega bahwa aku baik-baik saja.
“Iya aku baik-baik saja, tapi… kalung yang di berikan ibu, aku pakai untuk dijadikan jaminan pembayaran rumah sakit” aku menyatakan hal tersebut dengan mata yang berkaca-kaca
“Loh kenapa? Sudah gak apa-apa kok, memang itu peninggalan kakek tapi mau bagaimana lagi…” dengan raut yang sedih ibuku mencoba untuk menghilangkan rasa sedih atas kalung itu.
            “Maaf ya, Bu…” aku berdiri dan duduk disamping Ibu.
          “Tok..Tok…Tok” suara ketokan pintu membuatku berdiri dan mendekati pintu untuk melihat siapa tamu yang datang. Setelah kubuka pintu kulihat seorang Ibu yang tadi aku lihat sedang menjenguk Karin di Ruang IGD. Aku pun mempersilahkannya masuk. Setelah berbicara lama tentang kejadian itu, ternyata orang tua Karin ingin memgembalikan kalungku yang tadi dijadikan jaminan di rumah sakit dan bertererimakasih karena sudah membawa Karin ke rumah sakit. Ibuku senang karena kalung itu kembali kepadaku.
Kini aku akan selalu memakai kalung itu dan bertanggung jawab kepada ibuku untuk kalung hatiku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar