Kamis, 26 Mei 2016

Panggilan Tanda Ku Rindu


 “Cerita pendek atau yang biasanya disebut cerpen merupakan karangan pendek yang berbentuk prosa. Prosa merupakan karya yang berbentuk cerita bebas. Minggu depan siapkan cerpen bertemakan “Ibu” dan masing-masing siswa menceritakannya didepan kelas“ ucapan Bu Dilla saja yang kini masih menempati pikiran Rita saat perjalanan pulang dari sekolah.
            Sesampainya dirumah, Rita langsung menemui Ayahnya yang merupakan penjahit dan berkata “Yah, Rita bingung harus menulis bagaimana?“. Dengan melepas kaca matanya, Ayah pun berkata “Menulis apa sih, Nak?“.“ Menulis cerita pendek yang bertemakan Ibu“ jawabnya dengan cepat. “Ya sudah, nih telephone Ibumu, agar besok Sabtu ia pulang“ sambil memberikan handphone ke Rita. “Ya, Yah. Lagi pula besok Sabtu adalah hari ulang tahun Rita yang ke 9” mengambil handphone yang diberikan ayahnya. “Oh iya ” sambil melihat kalender untuk memastikannya.
“Hallo Bu, Rita kangen nih. Kan udah 2 minggu Ibu tidak pulang kerumah. Besok Sabtu pulang ya. Lagi pula Rita ulang tahun ke 9 loh, Ibu tidak lupakan“ ucap Rita ke Ibunya melalui handphone.
“Insyaallah, hari Sabtu akan pulang dan sampai jam 9 pagi. Ibu tidak lupa kok. Tunggu Ibu dirumah ya, Nak“ jawab Ibunya yang merupakan pegawai swasta di Jakarta dari handphone.
“Ya. Rita tunggu. Jangan sampai lupa ya?“ jawabnya dengan nada yang senang
“Iya. Wassalamualaikum“ ucap penutup dari Ibunya.
“Waalaikum salam“ sambil menutup handphonenya.
Kemudian Rita mempersiapkan alat-alat yang digunakan dalam menulis cerita pendeknya diatas meja belajarnya, seperti: buku, pulpen, pensil, dan penghapus. Kemudian Rita mengkhayal tentang apa saja yang akan dilakukannya saat membuat cerita pendek nanti. Hingga Rita terlelap di meja belajarnya.
Kegiatan sehari-hari ia jalankan dengan biasanya. Hari Sabtu sekolah di Desanya libur, untuk mempersiapkan kedatangan Ibunya, Rita membersihkan halaman dan rumahnya. Di halaman rumah sudah banyak rumput liar sudah panjang menjulang, karena Rita tidak mau Ibunya kecewa, Rita segera mengambil peralatan dan mulai membersihkan halaman. Waktu pun terus berjalan hingga tak terasa menunjukan pukul 8.30. Karena kini halamannya sudah rapi, Rita bergegas masuk kerumah untuk membersihkan badan yang terguyur oleh keringat.
Selesai mandi, Rita menunggu Ibunya di depan rumah. Waktu terus berjalan dan Ibunya tak kunjung datang. Mungkin bisnya telat, itu adalah pikiran yang tergambar dari raut mukanya. Raut muka yang mengkhawatir Ibunya. Sekitar jam 9 lewat 30 menit, Rita memutuskan untuk menelephone kembali Ibunya dan menanyakan tentang  keberadaannya.
Setelah di telephone, ternyata Ibunya hampir sampai terminal yang dekat dengan desanya. Mendengar perkataan tersebut, Rita langsung menutup telephonenya dan berlari menuju terminal yang berada di seberang desanya. Rita berlari dengan kencang, hingga ia tidak menghiraukan kendaraan yang berada di sekitarnya. Dengan kecepatan kurang lebih 60 km/jam sebuah motor menyerempet Rita yang sedang menyebrang sambil berlari. Klakson motor sudah di berikan, namun Rita tidak dapat menghindar dari motor tersebut. Rita pun terjatuh dan pingsan, ketika motor menyerempetnya. Darah kini mengalir dari kening, tangan, dan kakinya. Para pengguna jalan menghampiri dan mengerumuninya.
Selang beberapa menit kemudian, sebuah bis antar kota dan ambulance yang di panggil oleh seorang saksi mata kejadian datang. Ambulance segera membawa Rita ke rumah sakit terdekat. Saat itu pula Ibunya turun dari bis. Ketika melihat kerumunan warga, Ibu Rita segera menghampiri dan menanyakan tentang korban kecelakaan. Salah seorang dari kerumunan tersebut berkata “Korbannya anak kecil sekitar sembilan tahun, kulitnya putih, rambutnya dikepang, dan punya bintik hitam di tengah dagunya”. Setelah mendengar ciri-ciri korban tersebut, Ibu Rita memiliki firasat yang buruk.
Saat Ibu Rita pulang kerumah, yang dapat ia temui hanya suaminya saja.  Kemudian ia menanyakan keberadaan Rita. Baru ia sadari bahwa korban kecelakaan tersebut adalah Rita.
Segera kedua orangtua Rita pergi kerumah sakit. Saat mereka sampai rumah sakit, ternyata Rita sudah siuman. Setelah Rita melihat Ibunya datang, Rita tersenyum dan berkata “Ibu sudah datang ya?”. Ibu Rita menjawab “Iya baru aja ibu sampai” sambil menghilangkan air matanya karena khawatir. “Maaf ya, Rita ceroboh saat menyeberang, jadi begini nih” dengan raut wajah yang sedih dan sedih. “Tidak apa-apa, Selamat ulang tahun ya, Nak. Semoga Allah memberikan yang terbaik buat kamu” balasnya dengan mengelus rambut yang kini terurai dan mengecup keningnya.
Karena luka dikakinya tidak parah, sehari kemudian Rita telah diperbolehkan pulang untuk beristirahat di rumah. Sesampai di rumah, dengan menggunakan tongkat ia berjalan dibantu dengan Ibunya. Ketika melihat buku yang telah disiapkan olehnya untuk membuat cerita pendek, ia berkata “Bu, Rita punya PR membuat cerita pendek bertemakan Ibu, Ibu maukan membantu Rita membuat cerita pendeknya, mau ya Bu?”Tanya Rita sambil memegang buku dan pensil. ”Tapi kamu masih sakit jadi besok kamu tidak pergi sekolah” ucap ibu sambil mengusap rambut Rita. “Tapi, Bu. Itu  pengambilan nilai” ucapnya dengan nada memohon. “Baiklah” jawabnya sambil membantu Rita duduk di kursi meja belajarnya.
Hari pembacaan cerita pendek tiba, sudah setengah jam berlalu, sebagian teman Rita sudah membacakannya di depan kelas. Kemudian, ketokan pintu membuat pandangan mata seisi kelas berubah dan tertuju kepada pintu ruang kelas. Setelah Bu Dilla membuka pintu, Bu Dilla terlihat terkejut. Kemudian  Bu Dilla berbincang sebentar dengan seseorang di luar kelas.
Beberapa menit kemudian masuklah siswi di bantu oleh Bu Dilla dan Ibu dari siswi tersebut, ternyata itu adalah Rita yang akan membacakan cerita pendeknya di depan kelas. Rita membaca cerita pendeknya, seluruh siswa memperhatikan dan mendengarkan cerita Rita. Diakhir cerita Rita berkata ”My Mom, I miss you”. Kemudian seluruh siswa memberikan tepuk tangan. Rita meminta izin kepada Bu Dilla untuk pulang agar beristirahat di rumah. Diperjalanan, Rita berkata dengan berbisik  “Bu, I miss you”. “ I miss you too“ jawab Ibunya menanggapai bisikan tersebut dengan mengelus rambutnya. Dalam perjalanan pulang, Rita dan Ibunya saling bercanda untuk melepaskan kerinduan.

Senin, 16 Mei 2016

Kalung Hati 17


“Happy Birthday ke 17 sayang, semoga selalu sehat dan akan bahagia selalu” seseorang yang sering ku panggil Ibu itu memeluk dengan erat, sambil mengusap-usap rambutku. Mata yang kini terlihat sayu kini lembab karena air mata yang tidak dapat lagi dibendung.
“Iya, bu terimakasih atas segala yang telah Ibu berikan ke Mira” begitu kagetnya aku karena ibu mengucapkannya pukul 3 pagi, tepat dengan waktu kelahiranku.
Tanpa memberikan kata-kata lagi ibu memberikan kotak yang terbungkus oleh kertas Koran. Dengan senang hati, aku buka bungkusan yang melapisi sebuah kotak. Setalah kubuka kotak itu ternyata sebuah kalung yang memiliki bandul batu akik berbentuk hati telah ibu berikan kepadaku, Aku yakin pasti kalung ini sangat berharga bagi ibuku, maka aku akan menjaganya dengan hati-hati. Dan aku akan memakainya setiap hari.
***
Aku memiliki janji untuk merayakan ulang tahun bersama Karin pukul 10 pagi. Kemudian Karin memberi kabar bahwa ia telah berada di tempat makan yang telah ku janjikan, tempat yang kumaksud tidak jauh dari tempat tinggalku sekitar 200 meter di seberang jalan.
“Ibu aku pergi dulu ya? Aku pergi dengan Karin ke Restoran Kediri ya bu?“ sambil ku mencium tangan ibuku yang sedang duduk didepan rumah
“Ya, hati-hati dijalan...“ sambil memberikan aku senyuman yang selalu aku jumpai disetiap harinya.
Saat dalam perjalanan, aku memikirkan makanan yang akan kami pesan di restoran itu dengan menggunkan uang yang saat ini aku genggam.
 Tiba-tiba dengan cepat ada orang yang mengambil uangku. Mereka dua orang laki-laki bertubuh besar yang membawa sepeda motor dan senjata tajam. Kemudian aku berteriak minta tolong dan para warga pun membentuku dan mengejar penjahat itu. Jalan luruslah yang dilalui oleh penjahat itu, aku pun berusaha untuk mengejarnya pula. Jalan itu pula yang akan membawaku menuju restoran yang akan aku datangi.
Dari kejauhan dapat kulihat seorang wanita sedang menyebrangi jalan, kemudian dengan cepat kedua penjahat tersebut menabrak wanita itu, yang membuat kedua penjahat dan wanita itu jatuh. Kupercepat lari untuk mengahampirinya. Setelah sampai ditempat kejadian, kuhampiri wanita itu.
”Mba..mba.. “ aku terus mencoba membuatnya sadar dari posisi tubuhnya yang telungkup, tetapi dengan gaya rambutnya yang ikal aku dapat mengenalinya seperti sahabatku. Agar memastikan dugaanku, kemudian aku melihat wajah, wajah yang kini berlumuran darah itu Karin
“Karin… Karin… sadar Karin” aku coba untuk memanggil ambulance melalu telephone genggamku. Sementara itu warga membawa kedua penjahat tersebut ke kantor polisi terdekat.
“Haloo. Tolong kirim ambulance ke Jalan Raja Lima, disini terjadi kecelakaan!” langsung kututup telephone. Dan mencoba untuk memberikan nafas buatan untuk sahabatku. Hingga akhirnya ia dapat membuka mata, namun ia terlihat sangat kesakitan di bagian kepal,  tangan kiri, dan kakinya. 3 menit kemudian ambulance datang dan segera membawa Karin ke rumah sakit terdekat
***
Sudah satu jam dari perjanjian, aku menunggu Karin di Ruang IGD, aku telah menelephone bundanya, untuk memberitahukan rumah sakit tempat Karin kubawa. Saat dokter yang menanganinya keluar, aku langsung menanyakan tentang keadaan sahabatku
“Dokter bagimana keadaan sahabat saya?“ dengan merasa cemas aku masih saja menghawatirkannya.
“Kamu yang beri nafas buatan?“ dengan senyuman membuat kerutan dimata dokter laki-laki itu.
“Iya, karena saya takut terjadi apa-apa dengan sahabat saya, Dok. Apa dia baik baik saja?“ jawabnku yang masih terus menghawatirkannya.
“Kini dia sudah siuman, kamu boleh masuk kedalam, tapi tolong selesaikan urusan adminstrasinya dulu ya“ jawaban dokter membuat kau senang dan juga membuatku kaget, karena aku melupakan biaya yang harus ku tanggung.
Aku putuskan untuk mengurus adminstrasinya terlebih dahulu lalu menemui Karin. Saat sampai di ruang administrasi dan mendapatkan tagihan sebesar 700.000 dari rumah sakit aku bingung bagaiman cara aku membayarnya, sedangkan aku saja habis kecurian uang. Kemudian aku meminta negosiasi oleh pengurus administrasi, namun ditolak.
            Bagaimana cara membayarnya, hanya pertanyaan itu saja yang kini sedang menempati pikiranku. Kemudian aku memiliki ide untuk menggadaikan kalungku, tetapi pasti saat ibuku tau ia akan marah dan bersedih. Akhirnya aku putuskan agar kalung ini menjadi jaminan pembayaran rumah sakit. Pengurus adminstrasi itu memberi kesempatan.
            Aku pergi ke IGD untuk menghampiri Karin yang masih terbaring lemas ditempat tidur. Saat didepan ruangan aku lihat dari jendela kaca bahwa orang tuanya sudah datang. Karena kurasa Karin akan lebih baik dijaga oleh Ibunya, aku bergegas untuk pulang dan mengabarkan hal ini kepada Ibuku.
***
            Didepan rumah pukul 12 siang aku bingung bagaimana cara mengatakan tentang kalung itu tanpa membuat ibu kecewa. Belum ingin aku mengetok dan membuka pintu, Ibuku membuka pintu dan kaget melihatku ada didepan pintu.
            “Cepet banget makan-makannya hanya 2 jam? Makan apa aja? Ayo duduk ceritakan ke Ibu” ibuku mengusap kepalaku dengan tangan yang lembut sambil membawa buku yang baru saja dibacanya. Pertanyaan itu membuat aku kembali mengingat kejadian yang baru saja terjadi yang menimpa sahabatku.
“Iya, Bu” jawabku dengan membalas senyuman bingung bagaimana cara mengungkapkannya. 
“Bu sebenarnya, tadi Mira tidak jadi makan dengan Karin, kejadian buruk telah menimpaku dan Karin, tadi aku kecurian uang dan Karin tadi tertabrak oleh penjahat yang mencuri uangku, aku tidak apa-apa tapi Karin yang ada apa-apa. Karena aku melihat Karin yang tertabrak aku langsung memanggil ambulance dan membawanya ke Rumah Sakit Cipta.” Dengan tundukan kepala aku menjelaskan kejadian yang menimpaku dan Karin, tapi bagaimana dengan kalung itu, aku masih bingung bagaimana cara menjelaskannya.
“Innalilahi…. Syukur deh kalo kamu baik-baik aja” dengan wajah yang yang masih tersenyum dan dengan raut muka merasa lega bahwa aku baik-baik saja.
“Iya aku baik-baik saja, tapi… kalung yang di berikan ibu, aku pakai untuk dijadikan jaminan pembayaran rumah sakit” aku menyatakan hal tersebut dengan mata yang berkaca-kaca
“Loh kenapa? Sudah gak apa-apa kok, memang itu peninggalan kakek tapi mau bagaimana lagi…” dengan raut yang sedih ibuku mencoba untuk menghilangkan rasa sedih atas kalung itu.
            “Maaf ya, Bu…” aku berdiri dan duduk disamping Ibu.
          “Tok..Tok…Tok” suara ketokan pintu membuatku berdiri dan mendekati pintu untuk melihat siapa tamu yang datang. Setelah kubuka pintu kulihat seorang Ibu yang tadi aku lihat sedang menjenguk Karin di Ruang IGD. Aku pun mempersilahkannya masuk. Setelah berbicara lama tentang kejadian itu, ternyata orang tua Karin ingin memgembalikan kalungku yang tadi dijadikan jaminan di rumah sakit dan bertererimakasih karena sudah membawa Karin ke rumah sakit. Ibuku senang karena kalung itu kembali kepadaku.
Kini aku akan selalu memakai kalung itu dan bertanggung jawab kepada ibuku untuk kalung hatiku.