“Happy
Birthday ke 17 sayang, semoga selalu sehat dan akan bahagia selalu” seseorang
yang sering ku panggil Ibu itu memeluk dengan erat, sambil mengusap-usap
rambutku. Mata yang kini terlihat sayu kini lembab karena air mata yang tidak
dapat lagi dibendung.
“Iya,
bu terimakasih atas segala yang telah Ibu berikan ke Mira” begitu kagetnya aku
karena ibu mengucapkannya pukul 3 pagi, tepat dengan waktu kelahiranku.
Tanpa memberikan kata-kata
lagi ibu memberikan kotak yang terbungkus oleh kertas Koran. Dengan senang hati,
aku buka bungkusan yang melapisi sebuah kotak. Setalah kubuka kotak itu
ternyata sebuah kalung yang memiliki bandul batu akik berbentuk hati telah ibu
berikan kepadaku, Aku yakin pasti kalung ini sangat berharga bagi ibuku, maka aku
akan menjaganya dengan hati-hati. Dan aku akan memakainya setiap hari.
***
Aku memiliki janji untuk merayakan
ulang tahun bersama Karin pukul 10 pagi. Kemudian Karin memberi kabar bahwa ia
telah berada di tempat makan yang telah ku janjikan, tempat yang kumaksud tidak
jauh dari tempat tinggalku sekitar 200 meter di seberang jalan.
“Ibu aku pergi dulu ya? Aku
pergi dengan Karin ke Restoran Kediri ya bu?“ sambil ku mencium tangan ibuku
yang sedang duduk didepan rumah
“Ya, hati-hati dijalan...“
sambil memberikan aku senyuman yang selalu aku jumpai disetiap harinya.
Saat dalam perjalanan, aku
memikirkan makanan yang akan kami pesan di restoran itu dengan menggunkan uang
yang saat ini aku genggam.
Tiba-tiba dengan cepat
ada orang yang mengambil uangku. Mereka dua orang laki-laki bertubuh besar yang
membawa sepeda motor dan senjata tajam. Kemudian aku berteriak minta tolong dan
para warga pun membentuku dan mengejar penjahat itu. Jalan luruslah yang
dilalui oleh penjahat itu, aku pun berusaha untuk mengejarnya pula. Jalan itu
pula yang akan membawaku menuju restoran yang akan aku datangi.
Dari
kejauhan dapat kulihat seorang wanita sedang menyebrangi jalan, kemudian dengan
cepat kedua penjahat tersebut menabrak wanita itu, yang membuat kedua penjahat
dan wanita itu jatuh. Kupercepat lari untuk mengahampirinya. Setelah sampai
ditempat kejadian, kuhampiri wanita itu.
”Mba..mba..
“ aku terus mencoba membuatnya sadar dari posisi tubuhnya yang telungkup,
tetapi dengan gaya rambutnya yang ikal aku dapat mengenalinya seperti
sahabatku. Agar memastikan dugaanku, kemudian aku melihat wajah, wajah yang
kini berlumuran darah itu Karin
“Karin…
Karin… sadar Karin” aku coba untuk memanggil ambulance melalu telephone
genggamku. Sementara itu warga membawa kedua penjahat tersebut ke kantor polisi
terdekat.
“Haloo.
Tolong kirim ambulance ke Jalan Raja Lima, disini terjadi kecelakaan!” langsung
kututup telephone. Dan mencoba untuk memberikan nafas buatan untuk sahabatku.
Hingga akhirnya ia dapat membuka mata, namun ia terlihat sangat kesakitan di
bagian kepal, tangan kiri, dan kakinya.
3 menit kemudian ambulance datang dan segera membawa Karin ke rumah sakit
terdekat
***
Sudah
satu jam dari perjanjian, aku menunggu Karin di Ruang IGD, aku telah
menelephone bundanya, untuk memberitahukan rumah sakit tempat Karin kubawa. Saat dokter yang menanganinya keluar, aku langsung
menanyakan tentang keadaan sahabatku
“Dokter bagimana keadaan
sahabat saya?“ dengan merasa cemas aku masih saja menghawatirkannya.
“Kamu yang beri nafas
buatan?“ dengan senyuman membuat kerutan dimata dokter laki-laki itu.
“Iya, karena saya takut
terjadi apa-apa dengan sahabat saya, Dok. Apa dia baik baik saja?“ jawabnku
yang masih terus menghawatirkannya.
“Kini dia sudah siuman, kamu
boleh masuk kedalam, tapi tolong selesaikan urusan adminstrasinya dulu ya“
jawaban dokter membuat kau senang dan juga membuatku kaget, karena aku
melupakan biaya yang harus ku tanggung.
Aku putuskan untuk mengurus
adminstrasinya terlebih dahulu lalu menemui Karin. Saat sampai di ruang administrasi
dan mendapatkan tagihan sebesar 700.000 dari rumah sakit aku bingung bagaiman
cara aku membayarnya, sedangkan aku saja habis kecurian uang. Kemudian aku
meminta negosiasi oleh pengurus administrasi, namun ditolak.
Bagaimana
cara membayarnya, hanya pertanyaan itu saja yang kini sedang menempati
pikiranku. Kemudian aku memiliki ide untuk menggadaikan kalungku, tetapi pasti
saat ibuku tau ia akan marah dan bersedih. Akhirnya aku putuskan agar kalung
ini menjadi jaminan pembayaran rumah sakit. Pengurus adminstrasi itu memberi
kesempatan.
Aku
pergi ke IGD untuk menghampiri Karin yang masih terbaring lemas ditempat tidur.
Saat didepan ruangan aku lihat dari jendela kaca bahwa orang tuanya sudah
datang. Karena kurasa Karin akan lebih baik dijaga oleh Ibunya, aku bergegas
untuk pulang dan mengabarkan hal ini kepada Ibuku.
***
Didepan
rumah pukul 12 siang aku bingung bagaimana cara mengatakan tentang kalung itu
tanpa membuat ibu kecewa. Belum ingin aku mengetok dan membuka pintu, Ibuku
membuka pintu dan kaget melihatku ada didepan pintu.
“Cepet
banget makan-makannya hanya 2 jam? Makan apa aja? Ayo duduk ceritakan ke Ibu”
ibuku mengusap kepalaku dengan tangan yang lembut sambil membawa buku yang baru saja dibacanya. Pertanyaan itu membuat aku kembali mengingat kejadian yang baru
saja terjadi yang menimpa sahabatku.
“Iya,
Bu” jawabku dengan membalas senyuman bingung bagaimana cara mengungkapkannya.
“Bu
sebenarnya, tadi Mira tidak jadi makan dengan Karin, kejadian buruk telah menimpaku
dan Karin, tadi aku kecurian uang dan Karin tadi tertabrak oleh penjahat yang
mencuri uangku, aku tidak apa-apa tapi Karin yang ada apa-apa. Karena aku
melihat Karin yang tertabrak aku langsung memanggil ambulance dan membawanya ke
Rumah Sakit Cipta.” Dengan tundukan kepala aku menjelaskan kejadian yang
menimpaku dan Karin, tapi bagaimana dengan kalung itu, aku masih bingung
bagaimana cara menjelaskannya.
“Innalilahi….
Syukur deh kalo kamu baik-baik aja” dengan wajah yang yang masih tersenyum dan
dengan raut muka merasa lega bahwa aku baik-baik saja.
“Iya
aku baik-baik saja, tapi… kalung yang di berikan ibu, aku pakai untuk dijadikan
jaminan pembayaran rumah sakit” aku menyatakan hal tersebut dengan mata yang
berkaca-kaca
“Loh
kenapa? Sudah gak apa-apa kok, memang itu peninggalan kakek tapi mau bagaimana lagi…” dengan raut yang sedih ibuku mencoba untuk menghilangkan rasa sedih atas
kalung itu.
“Maaf ya, Bu…” aku berdiri dan duduk
disamping Ibu.
“Tok..Tok…Tok” suara ketokan pintu
membuatku berdiri dan mendekati pintu untuk melihat siapa tamu yang datang.
Setelah kubuka pintu kulihat seorang Ibu yang tadi aku lihat sedang menjenguk
Karin di Ruang IGD. Aku pun mempersilahkannya masuk. Setelah berbicara lama
tentang kejadian itu, ternyata orang tua Karin ingin memgembalikan kalungku
yang tadi dijadikan jaminan di rumah sakit dan bertererimakasih karena sudah
membawa Karin ke rumah sakit. Ibuku senang karena kalung itu kembali kepadaku.
Kini
aku akan selalu memakai kalung itu dan bertanggung jawab kepada ibuku untuk kalung hatiku.